Kesulitan Belajar Online, SMP Brebes Ini Sekolah Tatap Muka Sembunyi-sembunyi


BACA JUGA:



Katipol.com - SMP Negeri 2 Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sudah hampir tiga pekan ini menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) atau sekolah tatap muka di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19. Pelaksanaan sekolah tatap muka ini disebut atas desakan orang tua atau wali murid.
Wakil Kepala SMPN 2 Jatibarang, Iman Rifai saat ditemui di tempat kerjanya mengaku, sekolah tatap muka ini digelar karena desakan dari sebagian besar orang tua atau wali murid. Mereka meminta agar pihak sekolah membuka kembali kelas untuk belajar tatap muka.

"Kami semua sebenarnya sangat menyadari, saat ini masih dalam masa pandemi. Seharusnya pembelajaran dilakukan secara daring. Namun pada kenyataannya, daring tidak bisa berjalan lancar. Sehingga banyak orang tua meminta ke kami supaya tatap muka. Bahkan (orang tua) sudah menandatangani surat pernyataan," ungkap Iman Rifai, Rabu (5/8/2020).

Menurut Imam, alasan orang tua dan wali murid meminta agar sekolah kembali membuka kelas adalah ketersediaan jaringan internet dan smartphone.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak Gugus Tugas COVID-19, pihak sekolah sengaja menggelar sekolah tatap muka ini secara sembunyi-sembunyi. Caranya, siswa tidak diperbolehkan mengenakan seragam saat berangkat sekolah.

"Terus terang, ini sudah hampir tiga minggu berjalan. Sengaja kami belajar sembunyi-sembunyi," kata Iman.

Pembelajaran tatap muka di sekolah ini, lanjutnya, dilakukan dengan cara bergiliran. Shift pertama kelas VII masuk jam 07.00 WIB dan pulang 09.30 WIB. Kelas VIII masuk 08.00 WIB sampai 10.30 WIB dan kelas IX masuk jam 08.30 WIB sampai 11.30 WIB.

"Kami menerapkan protokol kesehatan. Wajib masker dan cuci tangan. Setiap kelas juga maksimal diisi 16 orang karena bergiliran. Setiap minggu siswa berangkat tiga kali," terang Imam.

Sementara, sejumlah orang yang ditemui saat menjemput anaknya di SMPN 2 Jatibarang mengatakan, sekolah tatap muka ini memang atas permintaan wali murid.

Salah satunya Sugiarteni (45). Anaknya tidak bisa mengikuti proses belajar jarak jauh.

"Saya salah satu yang minta tatap muka. Proses belajar di rumah, anak saya kesulitan. Banyak hal yang kurang bisa dipahami. Malah sempat anak minta supaya ada kelas privat, tapi saya tidak punya uang untuk bayar pengajar," kata Sugiarteni.Orang tua murid lainnya, Siti Nur Maemunah (38) mengatakan anaknya sering menangis karena tidak bisa mengikuti sistem pembelajaran daring secara lancar. Alasannya terkendala sinyal internet yang lemah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2